Mendongeng merupakan aktifitas sederhana yang sangat
bermanfaat bagi anak-anak. Hampir semua ahli parenting menyarankan
mendongeng sebagai salah satu sarana mendidik putra putri kita. Banyak
penelitian yang menyebutkan bahwa dongeng bermanfaat untuk perkembangan
psikologis anak.
Manfaat mendongeng/bercerita antara lain adalah:
1. Menumbuhkan imajinasi dan daya berfikir anak
2. Menanamkan pesan moral dan sikap positif pada anak
3. Menumbuhkan minat baca anak
1. Menumbuhkan imajinasi dan daya berfikir anak
2. Menanamkan pesan moral dan sikap positif pada anak
3. Menumbuhkan minat baca anak
Sayangnya di jaman yang serba canggih ini aktifitas
mendongeng sering ditinggalkan. Lalu digantikan 'dongeng' gadget yang
menarik dan instan. Padahal mendongeng sebetulnya bisa jauh lebih
menyenangkan dan bisa kita pakai untuk media menanamkan nilai positif
bahkan menghilangkan trauma pada anak.
Berikut tips agar pesan yang ingin kita sampaikan dapat masuk ke alam bawah sadar anak dengan mudah melalui mendongeng:
Saat kita berbicara kita punya 3 macam intonasi kalimat:
- Intonasi naik : pertanyaan
- Intonasi netral : pernyataan
- Intonasi turun : perintah
- Intonasi naik : pertanyaan
- Intonasi netral : pernyataan
- Intonasi turun : perintah
Nah, setiap kali Anda ingin memasukkan suatu sugesti yang
Anda selipkan di dalam kalimat, maka ubahlah bagian sugesti itu dengan
nada yang dibuat turun seperti perintah. Lakukan secara halus, jangan
terlalu kentara. (teknik ini disebut embedded command, yang diberi
analog marking)
Contoh, di tengah-tengah Anda menceritakan dongeng si Kancil, maka Anda bisa menyisipkan kalimat ini.
"Si kancil kemudian mengatakan pada temannya, kita harus ingat kata bu guru bahwa KITA HARUS SELALU TURUTI PERINTAH ORANG TUA KITA."
"Si kancil kemudian mengatakan pada temannya, kita harus ingat kata bu guru bahwa KITA HARUS SELALU TURUTI PERINTAH ORANG TUA KITA."
Nahhhh bagian yang ditulis huruf besar itu sebenarnya
merupakan perintah, yang disembunyikan dalam kalimat lebih luas.
Diberikan tanda berupa perubahan intonasi tertentu. Perubahan intonasi
ini akan dikenali oleh pikiran bawah sadar, namun tidak dirasakan oleh
pikiran sadar. Jadi hipnotik sekali sifatnya.
Anda bisa kombinasikan, pada saat mengatakan hal itu,
tataplah mata Anda lurus-lurus ke mata anak Anda. Ini makin menguatkan
kesan pada pikiran bawah sadar si Anak.
Yes!
Itulah rahasia mendongeng sebelum tidur.
Teknik yang sederhana, namun jangan tertipu oleh kesederhanaannya. Ini sangat powerful!
Itulah rahasia mendongeng sebelum tidur.
Teknik yang sederhana, namun jangan tertipu oleh kesederhanaannya. Ini sangat powerful!
Ingat, semua pembicara publik yang kawakan dan sukses,
menggunakan kisah dan intonasi yang tepat, untuk menghasilkan embedded
command yang berkesan kuat di benak pendengarnya.
Selamat dipraktekkan yaa..
Selamat dipraktekkan yaa..
Sebagai salah satu
kegiatan rileks yang bertujuan menghibur anak, dongeng diyakini ampuh
menjembatani kedekatan antara orang tua dan anak. Disisi lain dongeng
bisa menjadi sarana yang baik untuk menyampaikan nasihat orang tua
kepada anaknya. Namun, kini perkembangan dongeng kian terkikis oleh
begitu membumingnya beragam hiburan untuk anak dengan media elktronik.
Selain itu, dongeng memang memiliki tingkat kesulitan dengan beragam
kendala didalamnya.
Dengan alasan inilah eksistensi dongeng kian memudar. Kendala yang biasa
di hadapi orang tua dalam mendongeng untuk anak anak adalah lebih besar
di miliki orang tua. Susahnya referensi dongeng, kesibukan dalam
aktifitas sehari hari orang tua dan kecenderungan anak menikmati hiburan
elektonik, menyebabkan keberadaan dongeng untuk anak menjadi kian
jarang dilakukan orang tua kepada anaknya.
Keadaan memprihatinkan itu pun semakin memburuk, ketika keberadaan
pengelola hiburan yang hiburan modern (elekronik) semakin gencar
melakukan promosi dan pemasaran produknya, sementara jenis hiburan
traditional (khususnya dongeng) semakin berkurang peminatnya. Dengan
Alasan diatas, PARADOK (nama group dan kegiatan) sebagai sekelompok
kompasianer yang memiliki kepedulian terhadap eksistensi dongeng.
Mencoba menggalakan dan menumbuhkan semangat dalam mendongeng. Dengan
harapan dongeng anak bisa kembali di gemari orang tua dan anak sebagai
media untuk kegiatan rileks (hiburan) yang memiliki nilai budaya dan
moral yang baik di dalamnya.
Salah satu bukti dari kegiatan tersebut adalah dengan menganalisa dan
mencari solusi tentang sekelumit kendala yang ada dalam mendongeng.
Sehingga kendala dan kesuliatan tersebut bisa diminimalisir. Berikut
adalah Trik dan tips yang di peroleh dari berbagai sumber dan
pengalaman. Kemudian diolah menjadi sebuah ringkasan tulisan yang
diharapan bisa menjadi salah satu pencerahan bagi orang tua, agar
dongeng dapat dilakukan dengan mudah dan di senangi oleh anak. Selain
itu dongeng yang dilakukan bisa memberikan nilai nilai positif yang di
tanamkan dari isi cerita di dalamnya.
Berapa lama, kapan dan dimana sebaiknya mendongeng dilakukan?
Jika orang tua sudah terbiasa mendongeng, pasti bisa memperkirakan
berapa lama waktu untuk mendongeng, karena waktu tersebut tergantung
bagaimana anak bisa menerima cerita itu. Sehingga pada bagian mana harus
berhenti untuk jeda dan bahkan menghentikan dongeng yang sedang
berlangsung tersebut akan mengetahuinya.
Hal ini dikarnakan lama waktu mendongeng terkadang hanya bisa ditentukan
dengan melihat/memahami respon dari anak yang mendengarkan dongeng
tersebut. Sebagai bahan pertimbangan kita bisa mengacu pada pada
ungkapan orang yang berkompeten dalam mendongeng seperti Laura Numeroff,
pengarang dan ilustrator cerita anak-anak terlaris versi New York
Times. Menurutnya “mendongeng cukup sekitar 20 menit setiap malam”. Dari
sini kita bisa memperoleh rujukan waktu sebagai perkiraan untuk
mendongeng adalah sekitar 20 mnit.
Adapun pada pelaksanaannya tentu kita dapat memperoleh ketepatan waktu
tersebut. Karena jika sudah memulai mendongeng maka kita akan mengetahui
berapa lama waktu itu dibutuhkan. Disini pun tentu waktu itu akan
relatif lama atau justru lebih singkat, karena situasi dan kondisi pada
kenyataannya tentu akan berbeda dari setiap kali mendongeng.
Mengenai waktu yang tepat untuk mendongeng, memang seperti menjadi
kebiasaan yang sejak dulu dilakukan adalah pada saat menjelang tidur.
Hal ini dilakukan karena, dongeng akan memberikan imajinasi pada anak
yang sejenis dengan mimpi. Perlu kira sadari bahwa mimpi (mimpi indah)
akan memberikan dampak yang sangat positif terhadap perkembangan
psikologi anak. Maka, ketika dongeng yang menarik yang di isi dengan
muatan moral, diharapkan akan dilanjutkan dalam mimpi anak, sehingga
keindahan dan pesan moral dalam dongeng tersebut akan menjadi bagian
dalam alam bawah sadarnya. Dengan ini pesan pesan moral yang telah
mengendap dalam jiwa anak tersebut terkadang bisa di ingat hingga sang
anak tumbuh menjadi orang dewasa.
Selain pada saat menjelang tidur, dongeng bisa dilakukan pada saat saat
rileks atau santai. Seperti pada saat rekreasi/piknik misalnya, karena
seperti yang menjadi salah satu tujuan mendongeng adalah memberikan
hiburan dalam aktifitas rileks. Namun demikian pada saat di sekolah atau
pada moment tertentu di luar rumah, tidak akan seefektif mendongeng
secara personal antara orang tua dan anak di rumah. Karena disamping
mendapatkan hiburan dan pesan moral yang ada. Mendongeng akan
menjembatani kedekatan emosional antara orang tua dan anak.
Bagaimana cara mendongeng agar efektif memberikan pesan moral dan
disukai anak?
Setelah mengetahui perkiraan waktu untuk mendongeng, sebaikya kita juga
mengetahui bagaimana cara mendongeng agar menjadi kegiatan yang
menyenangkan sekaligus dapat memberikan pesan moral yang ada dalam
dongeng tersebut. Adapun langkah langkah ,medongemg antara lain :
Pertama, menguasai materi dongeng secara utuh. Dalam hal ini keseluruhan
cerita dalam dongeng yang akan diceritakan harus sudah dipahami nolh
pendongeng, baik dalam penokohan, situasai, karakter hingga pesan moral
yang akan ada dalam dongeng tersebut. Sehingga kita akan mendapat
gambaran pada bagian mana anak akan tersenyum, tertawa atau mengangguk
tanda mengiyakan ungkapan atau pesan yang ada dalam dongeng tersebut.
Dalam hal ini tentu beberapa jeda harus ada pada saat saat tertentu.
Ketika anak meresapi pesan moral misalnya, atau sesekalimemang kita
harus memberikan jeda saat anak menyenangi momen-momen tertentu.
Kedua, memilih tema dan media yang sesuai. Dari sekian dongeng
(fable/cerita binatang, cerita biasa dan lelucon) orang tua wajib untuk
memilih isi cerita trsebut yang sesuai. Disini dongeng yang
menarik/menghibur trsbut harus bnar benar dinging yang memiliki pesan
pesan moral yang baik. Ini adalah sebagai antisipasi dari kemungkinan
ada dongeng yang memiliki ketidak tepaan tema untuk perkembangan
psikologi anak. Seperti contoh dongeng legenda yang memiliki romantika
percintaan orang dewasa yang terlalu kompleks (contoh percintaan ibu dan
anak dalam cerita sangkuriang). Selain itu pilihan gambar/ media yang
ada diusahakan bisa membuat anak semakin terpicu untuk berimajinasi,
dengan gambar yang penuh warna warna yang indah dan gambar gambar yang
menarik.
Ketiga, memperisapkan konsentrasi sebelum memulai dongeng. Disini kita
harus bisa melihat kesiapan anak untuk mendengarkan dongeng. Jadi,
kondisi anak harus terlebih dahulu dipersiapkan senyaman mungkin
sehingga dalam menyimak dongeng yang diberikan sudah dalam keadaan yang
benar (konsentrasi dan fokus). Dengan demikian semua isi dongeng baik
itu hiburan dan pesan moral yang ada di dalamnya akan tersampaikan
dengan baik.
Keempat, memulai dengan awalan yang benar dan indah serta melakukan
improvisasi secara kreatif dengan segenap penghayatan. Dalam hal ini
awalan yang baik adalah awalan dngan kata yang membuat anak terhipnotis
dan bersemangat untuk memasang imaji merka, contoh kata yang bisa
diberikan adalah : Pada suatu ketika, ketika itu, pada jaman dahulu (
semuanya dilakukan dengan retorika yang bisa mengantarkan anak untuk
sesegera mungkin merimajinasi tetang Sesuatu yang ada dalam dongeng
tersebut). Pada saat mendongeng retorika kita pada setiap tokoh
diusahakan sebisa mungkin mengikuti karakter tokoh tersebut. Sehingga
anak akan semakin cepat untuk membentuk setiap karakter tokoh tersebut
dalam imajinasinya.
Kelima, mengakhiri dongeng dengan menyisipkan/mengulangi pesan pesan
moral. Pada bagian ini menjadi poin penting dimana pada saat selesai
dongeng diberikan, anak akan cepat menangkap dan mengingat pesan yang
akan disampaikan. Sehingga dengan kita memberikan pesan yang baik
sebagai penutup, anak akan menyadari bahwa dongeng telah selesai. Pada
saat inilah anak akan menyimpulkan (tanpa disadarinya) tentang seluruh
isi cerita yang telah di dengarnya. Maka dari itu, jika kita membantunya
dengan memberikan ulasan/mengulang poin poin penting tentang pesan
moralnya maka anak akan lebih cepat pula merekamnya.
Darimana mendapatkan dongeng? Terkadang ketidak tahuan orang tua tentang
beragam pilihan dongeng menjadi salah satu penyebab kurangnya dongeng
diberikan kepada anak. Dan ini semakin menambah begitu jarangnnya
dongeng diberikan kepada anak. Berikut ada 2 cara yang bisa dilakukan
untuk mendapatkan dongeng. Yang bisa digunakan atau hanya dibuat sebagai
referensi dalam membuat dongeng.
Cara yang pertama adalah cara klasik, yaitu dengan mencari sumber
dongeng dari toko toko buku atau mncari inspirasi dongeng dari sumber
cerita yang beragam, contoh dari cerita orang lain dan kisah-kisah
rakyat yang ada di sekitar kita. Selain itu bisa juga dari kehidupan
sehari hari yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah dongeng
yang bisa dipahami dan disukai oleh anak.
Berikutnya cara yang kedua adalah cara modern. Disini kita bisa
menggunakan media internet untuk hunting (berburu) dongeng dengan cara
mendownload E-book dongeng, mencari dongeng dari berbagai fasilitas web,
blog, note dll yang salah satunya tersedia juga bisa didapat di
kompasiana. Cara mudah untuk mendapatkan dongeng di Internet adalah
dengan menulis beberapa kata atau kalimat yang berhubungan dengan
dongeng di tab kosong (browsing). Contoh kita bisa menuliskan “kumpulan
dongeng anak nusantara”, “dongeng anak”, “cerita rakyat”, “kumpulan
fable" dan lain lain. Selain itu kita juga bisa menuliskan
penulis/pengarang dongeng anak seperti : Grimm, H.C Andersen, Laura
Numeroff, Kusumo Priyono ( Kak Kus), PM Toh dan lain lain.
Demikianlah tulisan ini dibuat semoga bermanfaat bagi kita semua yang
ingin memberikan dongeng sebagai kegiatan rilek yang menghibur dan
menginspirasi anak dengan menanamkan nilai-nilai moralitas yang ada
dalam dongeng tersebut. Mari kita budayakan dongeng yang bisa
menjembatani kedekatan emosianal orang tua dengan anak.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/roni82/trik-and-tips-dalam-mendongeng-untuk-anak_5500aace813311ca60fa8061
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/roni82/trik-and-tips-dalam-mendongeng-untuk-anak_5500aace813311ca60fa8061
Sebagai salah satu
kegiatan rileks yang bertujuan menghibur anak, dongeng diyakini ampuh
menjembatani kedekatan antara orang tua dan anak. Disisi lain dongeng
bisa menjadi sarana yang baik untuk menyampaikan nasihat orang tua
kepada anaknya. Namun, kini perkembangan dongeng kian terkikis oleh
begitu membumingnya beragam hiburan untuk anak dengan media elktronik.
Selain itu, dongeng memang memiliki tingkat kesulitan dengan beragam
kendala didalamnya.
Dengan alasan inilah eksistensi dongeng kian memudar. Kendala yang biasa
di hadapi orang tua dalam mendongeng untuk anak anak adalah lebih besar
di miliki orang tua. Susahnya referensi dongeng, kesibukan dalam
aktifitas sehari hari orang tua dan kecenderungan anak menikmati hiburan
elektonik, menyebabkan keberadaan dongeng untuk anak menjadi kian
jarang dilakukan orang tua kepada anaknya.
Keadaan memprihatinkan itu pun semakin memburuk, ketika keberadaan
pengelola hiburan yang hiburan modern (elekronik) semakin gencar
melakukan promosi dan pemasaran produknya, sementara jenis hiburan
traditional (khususnya dongeng) semakin berkurang peminatnya. Dengan
Alasan diatas, PARADOK (nama group dan kegiatan) sebagai sekelompok
kompasianer yang memiliki kepedulian terhadap eksistensi dongeng.
Mencoba menggalakan dan menumbuhkan semangat dalam mendongeng. Dengan
harapan dongeng anak bisa kembali di gemari orang tua dan anak sebagai
media untuk kegiatan rileks (hiburan) yang memiliki nilai budaya dan
moral yang baik di dalamnya.
Salah satu bukti dari kegiatan tersebut adalah dengan menganalisa dan
mencari solusi tentang sekelumit kendala yang ada dalam mendongeng.
Sehingga kendala dan kesuliatan tersebut bisa diminimalisir. Berikut
adalah Trik dan tips yang di peroleh dari berbagai sumber dan
pengalaman. Kemudian diolah menjadi sebuah ringkasan tulisan yang
diharapan bisa menjadi salah satu pencerahan bagi orang tua, agar
dongeng dapat dilakukan dengan mudah dan di senangi oleh anak. Selain
itu dongeng yang dilakukan bisa memberikan nilai nilai positif yang di
tanamkan dari isi cerita di dalamnya.
Berapa lama, kapan dan dimana sebaiknya mendongeng dilakukan?
Jika orang tua sudah terbiasa mendongeng, pasti bisa memperkirakan
berapa lama waktu untuk mendongeng, karena waktu tersebut tergantung
bagaimana anak bisa menerima cerita itu. Sehingga pada bagian mana harus
berhenti untuk jeda dan bahkan menghentikan dongeng yang sedang
berlangsung tersebut akan mengetahuinya.
Hal ini dikarnakan lama waktu mendongeng terkadang hanya bisa ditentukan
dengan melihat/memahami respon dari anak yang mendengarkan dongeng
tersebut. Sebagai bahan pertimbangan kita bisa mengacu pada pada
ungkapan orang yang berkompeten dalam mendongeng seperti Laura Numeroff,
pengarang dan ilustrator cerita anak-anak terlaris versi New York
Times. Menurutnya “mendongeng cukup sekitar 20 menit setiap malam”. Dari
sini kita bisa memperoleh rujukan waktu sebagai perkiraan untuk
mendongeng adalah sekitar 20 mnit.
Adapun pada pelaksanaannya tentu kita dapat memperoleh ketepatan waktu
tersebut. Karena jika sudah memulai mendongeng maka kita akan mengetahui
berapa lama waktu itu dibutuhkan. Disini pun tentu waktu itu akan
relatif lama atau justru lebih singkat, karena situasi dan kondisi pada
kenyataannya tentu akan berbeda dari setiap kali mendongeng.
Mengenai waktu yang tepat untuk mendongeng, memang seperti menjadi
kebiasaan yang sejak dulu dilakukan adalah pada saat menjelang tidur.
Hal ini dilakukan karena, dongeng akan memberikan imajinasi pada anak
yang sejenis dengan mimpi. Perlu kira sadari bahwa mimpi (mimpi indah)
akan memberikan dampak yang sangat positif terhadap perkembangan
psikologi anak. Maka, ketika dongeng yang menarik yang di isi dengan
muatan moral, diharapkan akan dilanjutkan dalam mimpi anak, sehingga
keindahan dan pesan moral dalam dongeng tersebut akan menjadi bagian
dalam alam bawah sadarnya. Dengan ini pesan pesan moral yang telah
mengendap dalam jiwa anak tersebut terkadang bisa di ingat hingga sang
anak tumbuh menjadi orang dewasa.
Selain pada saat menjelang tidur, dongeng bisa dilakukan pada saat saat
rileks atau santai. Seperti pada saat rekreasi/piknik misalnya, karena
seperti yang menjadi salah satu tujuan mendongeng adalah memberikan
hiburan dalam aktifitas rileks. Namun demikian pada saat di sekolah atau
pada moment tertentu di luar rumah, tidak akan seefektif mendongeng
secara personal antara orang tua dan anak di rumah. Karena disamping
mendapatkan hiburan dan pesan moral yang ada. Mendongeng akan
menjembatani kedekatan emosional antara orang tua dan anak.
Bagaimana cara mendongeng agar efektif memberikan pesan moral dan
disukai anak?
Setelah mengetahui perkiraan waktu untuk mendongeng, sebaikya kita juga
mengetahui bagaimana cara mendongeng agar menjadi kegiatan yang
menyenangkan sekaligus dapat memberikan pesan moral yang ada dalam
dongeng tersebut. Adapun langkah langkah ,medongemg antara lain :
Pertama, menguasai materi dongeng secara utuh. Dalam hal ini keseluruhan
cerita dalam dongeng yang akan diceritakan harus sudah dipahami nolh
pendongeng, baik dalam penokohan, situasai, karakter hingga pesan moral
yang akan ada dalam dongeng tersebut. Sehingga kita akan mendapat
gambaran pada bagian mana anak akan tersenyum, tertawa atau mengangguk
tanda mengiyakan ungkapan atau pesan yang ada dalam dongeng tersebut.
Dalam hal ini tentu beberapa jeda harus ada pada saat saat tertentu.
Ketika anak meresapi pesan moral misalnya, atau sesekalimemang kita
harus memberikan jeda saat anak menyenangi momen-momen tertentu.
Kedua, memilih tema dan media yang sesuai. Dari sekian dongeng
(fable/cerita binatang, cerita biasa dan lelucon) orang tua wajib untuk
memilih isi cerita trsebut yang sesuai. Disini dongeng yang
menarik/menghibur trsbut harus bnar benar dinging yang memiliki pesan
pesan moral yang baik. Ini adalah sebagai antisipasi dari kemungkinan
ada dongeng yang memiliki ketidak tepaan tema untuk perkembangan
psikologi anak. Seperti contoh dongeng legenda yang memiliki romantika
percintaan orang dewasa yang terlalu kompleks (contoh percintaan ibu dan
anak dalam cerita sangkuriang). Selain itu pilihan gambar/ media yang
ada diusahakan bisa membuat anak semakin terpicu untuk berimajinasi,
dengan gambar yang penuh warna warna yang indah dan gambar gambar yang
menarik.
Ketiga, memperisapkan konsentrasi sebelum memulai dongeng. Disini kita
harus bisa melihat kesiapan anak untuk mendengarkan dongeng. Jadi,
kondisi anak harus terlebih dahulu dipersiapkan senyaman mungkin
sehingga dalam menyimak dongeng yang diberikan sudah dalam keadaan yang
benar (konsentrasi dan fokus). Dengan demikian semua isi dongeng baik
itu hiburan dan pesan moral yang ada di dalamnya akan tersampaikan
dengan baik.
Keempat, memulai dengan awalan yang benar dan indah serta melakukan
improvisasi secara kreatif dengan segenap penghayatan. Dalam hal ini
awalan yang baik adalah awalan dngan kata yang membuat anak terhipnotis
dan bersemangat untuk memasang imaji merka, contoh kata yang bisa
diberikan adalah : Pada suatu ketika, ketika itu, pada jaman dahulu (
semuanya dilakukan dengan retorika yang bisa mengantarkan anak untuk
sesegera mungkin merimajinasi tetang Sesuatu yang ada dalam dongeng
tersebut). Pada saat mendongeng retorika kita pada setiap tokoh
diusahakan sebisa mungkin mengikuti karakter tokoh tersebut. Sehingga
anak akan semakin cepat untuk membentuk setiap karakter tokoh tersebut
dalam imajinasinya.
Kelima, mengakhiri dongeng dengan menyisipkan/mengulangi pesan pesan
moral. Pada bagian ini menjadi poin penting dimana pada saat selesai
dongeng diberikan, anak akan cepat menangkap dan mengingat pesan yang
akan disampaikan. Sehingga dengan kita memberikan pesan yang baik
sebagai penutup, anak akan menyadari bahwa dongeng telah selesai. Pada
saat inilah anak akan menyimpulkan (tanpa disadarinya) tentang seluruh
isi cerita yang telah di dengarnya. Maka dari itu, jika kita membantunya
dengan memberikan ulasan/mengulang poin poin penting tentang pesan
moralnya maka anak akan lebih cepat pula merekamnya.
Darimana mendapatkan dongeng? Terkadang ketidak tahuan orang tua tentang
beragam pilihan dongeng menjadi salah satu penyebab kurangnya dongeng
diberikan kepada anak. Dan ini semakin menambah begitu jarangnnya
dongeng diberikan kepada anak. Berikut ada 2 cara yang bisa dilakukan
untuk mendapatkan dongeng. Yang bisa digunakan atau hanya dibuat sebagai
referensi dalam membuat dongeng.
Cara yang pertama adalah cara klasik, yaitu dengan mencari sumber
dongeng dari toko toko buku atau mncari inspirasi dongeng dari sumber
cerita yang beragam, contoh dari cerita orang lain dan kisah-kisah
rakyat yang ada di sekitar kita. Selain itu bisa juga dari kehidupan
sehari hari yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah dongeng
yang bisa dipahami dan disukai oleh anak.
Berikutnya cara yang kedua adalah cara modern. Disini kita bisa
menggunakan media internet untuk hunting (berburu) dongeng dengan cara
mendownload E-book dongeng, mencari dongeng dari berbagai fasilitas web,
blog, note dll yang salah satunya tersedia juga bisa didapat di
kompasiana. Cara mudah untuk mendapatkan dongeng di Internet adalah
dengan menulis beberapa kata atau kalimat yang berhubungan dengan
dongeng di tab kosong (browsing). Contoh kita bisa menuliskan “kumpulan
dongeng anak nusantara”, “dongeng anak”, “cerita rakyat”, “kumpulan
fable" dan lain lain. Selain itu kita juga bisa menuliskan
penulis/pengarang dongeng anak seperti : Grimm, H.C Andersen, Laura
Numeroff, Kusumo Priyono ( Kak Kus), PM Toh dan lain lain.
Demikianlah tulisan ini dibuat semoga bermanfaat bagi kita semua yang
ingin memberikan dongeng sebagai kegiatan rilek yang menghibur dan
menginspirasi anak dengan menanamkan nilai-nilai moralitas yang ada
dalam dongeng tersebut. Mari kita budayakan dongeng yang bisa
menjembatani kedekatan emosianal orang tua dengan anak
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/roni82/trik-and-tips-dalam-mendongeng-untuk-anak_5500aace813311ca60fa8061
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/roni82/trik-and-tips-dalam-mendongeng-untuk-anak_5500aace813311ca60fa8061
Sebagai salah satu
kegiatan rileks yang bertujuan menghibur anak, dongeng diyakini ampuh
menjembatani kedekatan antara orang tua dan anak. Disisi lain dongeng
bisa menjadi sarana yang baik untuk menyampaikan nasihat orang tua
kepada anaknya. Namun, kini perkembangan dongeng kian terkikis oleh
begitu membumingnya beragam hiburan untuk anak dengan media elktronik.
Selain itu, dongeng memang memiliki tingkat kesulitan dengan beragam
kendala didalamnya.
Dengan alasan inilah eksistensi dongeng kian memudar. Kendala yang biasa
di hadapi orang tua dalam mendongeng untuk anak anak adalah lebih besar
di miliki orang tua. Susahnya referensi dongeng, kesibukan dalam
aktifitas sehari hari orang tua dan kecenderungan anak menikmati hiburan
elektonik, menyebabkan keberadaan dongeng untuk anak menjadi kian
jarang dilakukan orang tua kepada anaknya.
Keadaan memprihatinkan itu pun semakin memburuk, ketika keberadaan
pengelola hiburan yang hiburan modern (elekronik) semakin gencar
melakukan promosi dan pemasaran produknya, sementara jenis hiburan
traditional (khususnya dongeng) semakin berkurang peminatnya. Dengan
Alasan diatas, PARADOK (nama group dan kegiatan) sebagai sekelompok
kompasianer yang memiliki kepedulian terhadap eksistensi dongeng.
Mencoba menggalakan dan menumbuhkan semangat dalam mendongeng. Dengan
harapan dongeng anak bisa kembali di gemari orang tua dan anak sebagai
media untuk kegiatan rileks (hiburan) yang memiliki nilai budaya dan
moral yang baik di dalamnya.
Salah satu bukti dari kegiatan tersebut adalah dengan menganalisa dan
mencari solusi tentang sekelumit kendala yang ada dalam mendongeng.
Sehingga kendala dan kesuliatan tersebut bisa diminimalisir. Berikut
adalah Trik dan tips yang di peroleh dari berbagai sumber dan
pengalaman. Kemudian diolah menjadi sebuah ringkasan tulisan yang
diharapan bisa menjadi salah satu pencerahan bagi orang tua, agar
dongeng dapat dilakukan dengan mudah dan di senangi oleh anak. Selain
itu dongeng yang dilakukan bisa memberikan nilai nilai positif yang di
tanamkan dari isi cerita di dalamnya.
Berapa lama, kapan dan dimana sebaiknya mendongeng dilakukan?
Jika orang tua sudah terbiasa mendongeng, pasti bisa memperkirakan
berapa lama waktu untuk mendongeng, karena waktu tersebut tergantung
bagaimana anak bisa menerima cerita itu. Sehingga pada bagian mana harus
berhenti untuk jeda dan bahkan menghentikan dongeng yang sedang
berlangsung tersebut akan mengetahuinya.
Hal ini dikarnakan lama waktu mendongeng terkadang hanya bisa ditentukan
dengan melihat/memahami respon dari anak yang mendengarkan dongeng
tersebut. Sebagai bahan pertimbangan kita bisa mengacu pada pada
ungkapan orang yang berkompeten dalam mendongeng seperti Laura Numeroff,
pengarang dan ilustrator cerita anak-anak terlaris versi New York
Times. Menurutnya “mendongeng cukup sekitar 20 menit setiap malam”. Dari
sini kita bisa memperoleh rujukan waktu sebagai perkiraan untuk
mendongeng adalah sekitar 20 mnit.
Adapun pada pelaksanaannya tentu kita dapat memperoleh ketepatan waktu
tersebut. Karena jika sudah memulai mendongeng maka kita akan mengetahui
berapa lama waktu itu dibutuhkan. Disini pun tentu waktu itu akan
relatif lama atau justru lebih singkat, karena situasi dan kondisi pada
kenyataannya tentu akan berbeda dari setiap kali mendongeng.
Mengenai waktu yang tepat untuk mendongeng, memang seperti menjadi
kebiasaan yang sejak dulu dilakukan adalah pada saat menjelang tidur.
Hal ini dilakukan karena, dongeng akan memberikan imajinasi pada anak
yang sejenis dengan mimpi. Perlu kira sadari bahwa mimpi (mimpi indah)
akan memberikan dampak yang sangat positif terhadap perkembangan
psikologi anak. Maka, ketika dongeng yang menarik yang di isi dengan
muatan moral, diharapkan akan dilanjutkan dalam mimpi anak, sehingga
keindahan dan pesan moral dalam dongeng tersebut akan menjadi bagian
dalam alam bawah sadarnya. Dengan ini pesan pesan moral yang telah
mengendap dalam jiwa anak tersebut terkadang bisa di ingat hingga sang
anak tumbuh menjadi orang dewasa.
Selain pada saat menjelang tidur, dongeng bisa dilakukan pada saat saat
rileks atau santai. Seperti pada saat rekreasi/piknik misalnya, karena
seperti yang menjadi salah satu tujuan mendongeng adalah memberikan
hiburan dalam aktifitas rileks. Namun demikian pada saat di sekolah atau
pada moment tertentu di luar rumah, tidak akan seefektif mendongeng
secara personal antara orang tua dan anak di rumah. Karena disamping
mendapatkan hiburan dan pesan moral yang ada. Mendongeng akan
menjembatani kedekatan emosional antara orang tua dan anak.
Bagaimana cara mendongeng agar efektif memberikan pesan moral dan
disukai anak?
Setelah mengetahui perkiraan waktu untuk mendongeng, sebaikya kita juga
mengetahui bagaimana cara mendongeng agar menjadi kegiatan yang
menyenangkan sekaligus dapat memberikan pesan moral yang ada dalam
dongeng tersebut. Adapun langkah langkah ,medongemg antara lain :
Pertama, menguasai materi dongeng secara utuh. Dalam hal ini keseluruhan
cerita dalam dongeng yang akan diceritakan harus sudah dipahami nolh
pendongeng, baik dalam penokohan, situasai, karakter hingga pesan moral
yang akan ada dalam dongeng tersebut. Sehingga kita akan mendapat
gambaran pada bagian mana anak akan tersenyum, tertawa atau mengangguk
tanda mengiyakan ungkapan atau pesan yang ada dalam dongeng tersebut.
Dalam hal ini tentu beberapa jeda harus ada pada saat saat tertentu.
Ketika anak meresapi pesan moral misalnya, atau sesekalimemang kita
harus memberikan jeda saat anak menyenangi momen-momen tertentu.
Kedua, memilih tema dan media yang sesuai. Dari sekian dongeng
(fable/cerita binatang, cerita biasa dan lelucon) orang tua wajib untuk
memilih isi cerita trsebut yang sesuai. Disini dongeng yang
menarik/menghibur trsbut harus bnar benar dinging yang memiliki pesan
pesan moral yang baik. Ini adalah sebagai antisipasi dari kemungkinan
ada dongeng yang memiliki ketidak tepaan tema untuk perkembangan
psikologi anak. Seperti contoh dongeng legenda yang memiliki romantika
percintaan orang dewasa yang terlalu kompleks (contoh percintaan ibu dan
anak dalam cerita sangkuriang). Selain itu pilihan gambar/ media yang
ada diusahakan bisa membuat anak semakin terpicu untuk berimajinasi,
dengan gambar yang penuh warna warna yang indah dan gambar gambar yang
menarik.
Ketiga, memperisapkan konsentrasi sebelum memulai dongeng. Disini kita
harus bisa melihat kesiapan anak untuk mendengarkan dongeng. Jadi,
kondisi anak harus terlebih dahulu dipersiapkan senyaman mungkin
sehingga dalam menyimak dongeng yang diberikan sudah dalam keadaan yang
benar (konsentrasi dan fokus). Dengan demikian semua isi dongeng baik
itu hiburan dan pesan moral yang ada di dalamnya akan tersampaikan
dengan baik.
Keempat, memulai dengan awalan yang benar dan indah serta melakukan
improvisasi secara kreatif dengan segenap penghayatan. Dalam hal ini
awalan yang baik adalah awalan dngan kata yang membuat anak terhipnotis
dan bersemangat untuk memasang imaji merka, contoh kata yang bisa
diberikan adalah : Pada suatu ketika, ketika itu, pada jaman dahulu (
semuanya dilakukan dengan retorika yang bisa mengantarkan anak untuk
sesegera mungkin merimajinasi tetang Sesuatu yang ada dalam dongeng
tersebut). Pada saat mendongeng retorika kita pada setiap tokoh
diusahakan sebisa mungkin mengikuti karakter tokoh tersebut. Sehingga
anak akan semakin cepat untuk membentuk setiap karakter tokoh tersebut
dalam imajinasinya.
Kelima, mengakhiri dongeng dengan menyisipkan/mengulangi pesan pesan
moral. Pada bagian ini menjadi poin penting dimana pada saat selesai
dongeng diberikan, anak akan cepat menangkap dan mengingat pesan yang
akan disampaikan. Sehingga dengan kita memberikan pesan yang baik
sebagai penutup, anak akan menyadari bahwa dongeng telah selesai. Pada
saat inilah anak akan menyimpulkan (tanpa disadarinya) tentang seluruh
isi cerita yang telah di dengarnya. Maka dari itu, jika kita membantunya
dengan memberikan ulasan/mengulang poin poin penting tentang pesan
moralnya maka anak akan lebih cepat pula merekamnya.
Darimana mendapatkan dongeng? Terkadang ketidak tahuan orang tua tentang
beragam pilihan dongeng menjadi salah satu penyebab kurangnya dongeng
diberikan kepada anak. Dan ini semakin menambah begitu jarangnnya
dongeng diberikan kepada anak. Berikut ada 2 cara yang bisa dilakukan
untuk mendapatkan dongeng. Yang bisa digunakan atau hanya dibuat sebagai
referensi dalam membuat dongeng.
Cara yang pertama adalah cara klasik, yaitu dengan mencari sumber
dongeng dari toko toko buku atau mncari inspirasi dongeng dari sumber
cerita yang beragam, contoh dari cerita orang lain dan kisah-kisah
rakyat yang ada di sekitar kita. Selain itu bisa juga dari kehidupan
sehari hari yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah dongeng
yang bisa dipahami dan disukai oleh anak.
Berikutnya cara yang kedua adalah cara modern. Disini kita bisa
menggunakan media internet untuk hunting (berburu) dongeng dengan cara
mendownload E-book dongeng, mencari dongeng dari berbagai fasilitas web,
blog, note dll yang salah satunya tersedia juga bisa didapat di
kompasiana. Cara mudah untuk mendapatkan dongeng di Internet adalah
dengan menulis beberapa kata atau kalimat yang berhubungan dengan
dongeng di tab kosong (browsing). Contoh kita bisa menuliskan “kumpulan
dongeng anak nusantara”, “dongeng anak”, “cerita rakyat”, “kumpulan
fable" dan lain lain. Selain itu kita juga bisa menuliskan
penulis/pengarang dongeng anak seperti : Grimm, H.C Andersen, Laura
Numeroff, Kusumo Priyono ( Kak Kus), PM Toh dan lain lain.
Demikianlah tulisan ini dibuat semoga bermanfaat bagi kita semua yang
ingin memberikan dongeng sebagai kegiatan rilek yang menghibur dan
menginspirasi anak dengan menanamkan nilai-nilai moralitas yang ada
dalam dongeng tersebut. Mari kita budayakan dongeng yang bisa
menjembatani kedekatan emosianal orang tua dengan anak
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/roni82/trik-and-tips-dalam-mendongeng-untuk-anak_5500aace813311ca60fa8061
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/roni82/trik-and-tips-dalam-mendongeng-untuk-anak_5500aace813311ca60fa8061
Tidak ada komentar:
Posting Komentar