PADA SUATU HARI

Selasa, 25 September 2018

Dongeng Anak ( Aladin dan Lampu Ajaib )

Aladin dan Lampu Ajaib

Dahulu kala, di kota Persia, seorang Ibu tinggal
dengan anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu hari datanglah seorang laki-laki mendekati Aladin yang sedang bermain. Kemudian laki-laki itumengakui Aladin sebagai keponakannya. Laki-laki itu mengajak Aladin pergi ke luar kota dengan seizin ibu Aladin untuk membantunya. Jalan yang ditempuh sangat jauh. Aladin mengeluh kecapaian kepada pamannya tetapi ia malah dibentak dan disuruh untuk mencari kayu
bakar, kalau tidak mau Aladin akan dibunuhnya. Aladin akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan pamannya melainkan seorang penyihir. Laki-laki penyihir itu kemudian menyalakan api dengan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantera. "Kraak…" tiba-tiba tanah menjadi berlubang seperti gua.
Dalam lubang gua itu terdapat tangga sampai ke dasarnya. "Ayo turun! Ambilkan aku lampu antik di dasar gua itu", seru si penyihir. "Tidak, aku takut turun ke sana", jawab Aladin.Penyihir itu kemudian mengeluarkan sebuahcincin dan memberikannya kepada Aladin. "Ini adalah cincin ajaib, cincin ini akan melindungimu", kata si penyihir. Akhirnya Aladin menuruni tangga itu dengan perasaan
takut. Setelah sampai di dasar ia menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada di situ dibawanya, ia segera menaiki tangga kembali. Tetapi, pintu
lubang sudah tertutup sebagian. "Cepat berikan lampunya !", seru
penyihir. "Tidak ! Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar", jawab
Aladin. Setelah berdebat, si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya
"Brak!" pintu lubang ditutup oleh si penyihir lalu meninggalkan Aladin
terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk
termenung. "Aku lapar, Aku ingin bertemu ibu, Tuhan, tolonglah aku !",
ucap Aladin.
Aladin merapatkan kedua tangannya dan mengusap
jari-jarinya. Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah
dan asap membumbung. Bersamaan dengan itu
muncul seorang raksasa. Aladin sangat ketakutan.
"Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan",
saya adalah peri cincin kata raksasa itu. "Oh, kalau
begitu bawalah aku pulang kerumah." "Baik Tuan,
naiklah kepunggungku, kita akan segera pergi dari sini", ujar peri cincin. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan
rumahnya. "Kalau tuan memerlukan saya panggillah dengan menggosok
cincin Tuan."
Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya.
"Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya ?", kata Ibu
sambil menggosok membersihkan lampu itu. "Syut !" Tiba-tiba asap
membumbung dan muncul seorang raksasa peri lampu. "Sebutkanlah
perintah Nyonya", kata si peri lampu. Aladin yang sudah pernah
mengalami hal seperti ini memberi perintah,"kami lapar, tolong siapkan
makanan untuk kami". Dalam waktu singkat peri Lampu membawa
makanan yang lezat-lezat kemudian menyuguhkannya. "Jika ada yang
diinginkan lagi, panggil saja saya dengan menggosok lampu itu", kata si
peri lampu.
Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia dengan
ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewat
seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa
jatuh cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya
kepada ibunya untuk memperistri putri raja. "Tenang Aladin, Ibu akan
mengusahakannya". Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permatapermata
kepunyaan Aladin. "Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda
dari anak laki-lakiku." Raja amat senang. "Wah..., anakmu pasti seorang
pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan
membawa serta putriku".
Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok
lampu dan meminta peri lampu untuk
membawakan sebuah istana. Aladin dan
ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama
kemudian peri lampu datang dengan Istana
megah di punggungnya. "Tuan, ini Istananya".
Esok hari sang Raja dan putrinya datang
berkunjung ke Istana Aladin yang sangat
megah. "Maukah engkau menjadikan anakku
sebagai istrimu ?", Tanya sang Raja. Aladin
sangat gembira mendengarnya. Lalu mereka
berdua melaksanakan pesta pernikahan.
Nun jauh disana, si penyihir ternyata melihat
semua kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu
pergi ke tempat Aladin dan pura-pura menjadi
seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia
berteriak-teriak, "tukarkan lampu lama anda
dengan lampu baru !". Sang permaisuri yang
melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera
keluar dan menukarkannya dengan lampu baru.
Segera si penyihir menggosok lampu itu dan
www.rajaebookgratis.com
rajaebookgratis.wordpress.com
www.ebookgratis.sampara.com
By : Hardyanto Mustika, Amd.Kom
memerintahkan peri lampu memboyong istana beserta isinya dan istri
Aladin ke rumahnya.
Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut. Lalu memanggil
peri cincin dan bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. "Kalau begitu
tolong kembalikan lagi semuanya kepadaku", seru Aladin. "Maaf Tuan,
tenaga saya tidaklah sebesar peri lampu," ujar peri cincin. "Baik kalau
begitu aku yang akan mengambilnya. Tolong Antarkan kau kesana", seru
Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk mencari kamar
tempat sang Putri dikurung. "Penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan
minum bir", ujar sang Putri. "Baik, jangan kuatir aku akan mengambil
kembali lampu ajaib itu, kita nanti akan menang", jawab Aladin.
Aladin mengendap mendekati penyihir yang sedang tidur. Ternyata lampu
ajaib menyembul dari kantungnya. Aladin
kemudian mengambilnya dan segera
menggosoknya. "Singkirkan penjahat ini", seru
Aladin kepada peri lampu. Penyihir terbangun,
lalu menyerang Aladin. Tetapi peri lampu
langsung membanting penyihir itu hingga
tewas. "Terima kasih peri lampu, bawalah kami
dan Istana ini kembali ke Persia". Sesampainya
di Persia Aladin hidup bahagia. Ia
mempergunakan sihir dari peri lampu untuk
membantu orang-orang miskin dan kesusahan.


By : Hardyanto Mustika, Amd.Kom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENDONGENG TANGSEL

Siapa di antara teman-teman yang suka membaca kisah dongeng? Dongeng merupakan salah satu jenis cerita fiksi, teman-teman. Ada lima jenis do...

kabar berita